Sabtu, 25 Juli 2009

III. AGAMA ISLAM

A. Makna Agama Islam
Berbicara masalah agama tidak terlepas dari masalah kehidupan manusia itu sendiri, olehnya itu agama menjadi suatu kebutuhan hidup yang memiliki fungsi-fungsi seperti yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
 Mahmud Syaltut menyebutkan, bahwa fungsi agama adalah sebagai wahana untuk :
• Mensucikan jiwa dan membersihkan hati.
• Membentuk sikap patuh dan taat serta menimbulkan sikap dan perasaan mengagungkan
Tuhan.
• Memberi pedoman kepada manusia dalam menciptakan kebaikan hidup di dunia secara
mantap dengan cara memperat hubungan dengan Tuhan sebagai pencipta.
(Mahmud Syaltut, Mintaujihat al-Islam, hal. 22-23)
 Musthafah al-Zuhayli mengemukakan, bahwa fungsi agama yaitu:
• Sebagai pemenuhan kebutuhan rohani
• Sebagai motivasi dalam mencapai kemajuan
• Sebagai pedoman hidup
• Sebagai sarana pendidikan rohani
• Sebagai pembentukan keseimbangan jasmani dan rohani, duniawi dan ukhrawi
• Sebagai pembentukan kemantapan dan ketenangan jiwa
(Al-Zuhayli, dalam al-tadaahmun al-Islam, Th.XXXIV, 1980, hal. 50)
 Al-Maraghi berpendapat, bahwa agama bertujuan untuk:
• Mensucikan jiwa dan membebaskan akal dari kepercayaan sinkritisme terhadap
kekuatan ghaib yang dimiliki makhluk dalam menguasai alam agar makhluk atau
selainnya tunduk dan patuh kepadanya.
• Memperbaiki sikap bathin (qalb) atas dasar tujuan yang baik, agar dalam melakukan
semua perbuatan dilandasi dengan niat yang ikhlas untuk Allah dan untuk manusia.
(Al-Maraghi, jld I, h. 118)
Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat, dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kehidupan ummat manusia pada khususnya, dan semua makhluk Allah pada umumnya. Kondisi itu akan terwujud apabila manusia sebagai penerima amanah Allah dapat menjalankan aturan tersebut secara benar dan “kaafah.”
Agama Islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, Nabi pertama, yaitu Nabi Adam. Agama Islam itu kemudian Allah turunkan secara berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul-rasul berikutnya. Akhir dari proses penurunan agama Islam itu baru terjadi pada masa kerasulan Muhammad Saw pada awal abad ke-VII Masehi. Islam sebagai nama dari agama yang Allah turunkan belum dinyatakan secara eksplisit pada masa kerasulan sebelum Muhammad Saw, tetapi makna dan substansi ajarannya secara implicit memiliki persamaan yang dapat dipahami dari pernyataan sikap para Rasul sebagaimana Allah firmankan dalam QS. al-Baqarah: 132, yang artinya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”
Ajaran agama Islam memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Sesuai dengan fitrah hidup manusia, artinya (1) ajaran agama Islam mengandung petunjuk yang sesuai dengan sifat dasar manusia, baik dari aspek keyakinan, perasaan, maupun pemikiran, (2) sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, (3) memberikan manfaat tanpa menimbulkan komplikasi, dan (4) menempatkan manusia dalam posisi yang benar (QS. ar-Rum/30:30).
2. Ajarannya sempurna, artinya materi ajaran Islam berisis petunjuk-petunjuk pada seluruh kehidupan manusia. Petunjuk itu adakalanya disebut secara eksplisit, dan adakalanya disebut secara implisit. Untuk memahami petunjuk yang bersifat implisit dilakukan dengan ijtihad (QS. al-Maidah/5:3).
3. Kebenarannya mutlak. Kebenaran itu dapat dipahami karena ajaran Islam berasal dari Allah Yang Maha Benar, dan dapat pula dipahami melalui bukti-bukti materiil, serta bukti riilnya. Karena itu Allah mengingatkan agar manusia tidak meragukan kebenarannya (QS. al-Baqarah/2:147).
4. Mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Sekalipun menurut ajaran Islam manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, tetapi nilai ibadah manusia terdapat pada seluruh aspek kehidupan, dan manusia harus memperhatikan berbagai aspek-aspek kepentingan dalam hidupnya tersebut sebagaimana Allah sebutkan dalam QS. al-Qashash/28:77.
5. Fleksibel dan ringan, artinya ajaran Islam memperhatikan dan menghargai kondisi masing-masing individu dalam menjalankan aturannya, dan tidak memaksakan orang Islam untuk melakukan suatu perbuatan di luar batas kemampuannya. Hal itu ditegaskan oleh Allah dalam QS. al-Baqarah/2:286.
6. Berlaku secara universal, artinya ajaran Islam berlaku untuk seluruh ummat manusia di dunia sampai akhir masa (QS. al-Ahzab/33:40).
7. Sesuai dengan akal pikiran dan memotivasi manusia untuk menggunakan akal pikirannya (QS. al-Mujadilah/58:11).
8. Inti ajarannya “Tauhid” dan seluruh ajarannya mencerminkan ketauhidan Allah tersebut (QS. al-An’am/6:162).
9. Menciptakan rahmat, kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya, seperti ketenangan hidup bagi orang yang meyakini dan menaatinya (QS. al-Fath/48:4). Kerahmatan yang diwujudkan oleh Islam itu juga dinyatakan oleh Allah ketika menjelaskan missii kerasulan Muhammad SAW (QS. al-Anbiya’/21:107).
Fungsi Islam sebagai rahmat Allah tidak bergantung pada penerimaan atau penilaian manusia. Substansi rahmat terletak pada fungsi ajaran tersebut, fungsi tersebut baru dirasakan baik oleh manusia sendiri maupun oleh makhluk-makluk yang lain apabila manusia sebagai pengemban amanah Allah telah menaati ajaran tersebut. Fungsi Islam sebagai rahmat Allah bagi semua alam dijelaskan oleh Allah dalam QS. al-Anbiya’/21:107. Bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu adalah :
 Islam menunjuki manusia jalan hidup yang benar. Ajaran Islam sebagiannya bersifat supra rasional atau ta’abbudi dan sebagian ajaran Islam yang lain bersifat rasional atau ta’aqquli.
 Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang diberikan oleh Allah secara bertanggung jawab (QS. Yunus/10:99 dan QS. al-Baqarah/2:256).
 Islam menghargai dan menghormati semua manusia sebagai hamba Allah, baik mereka muslim maupun non-muslim.
 Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan proporsional.
 Islam menghormati kondisi spesifik individu manusia dan memberikan perlakuan yang spesifik pula.

B. Kerangka Dasar Agama Islam
Kerangka dasar ajaran Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw. bersifat multidimensional, universal, abadi dan fithri. Dikatakan multi dimensional karena ajarannya mencakup dimensi-dimensi yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliqnya (hablu minallah) dan hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, maupun dengan makhluk lainnya (hablu minannas) (QS. ali-Imran/3:112). Ajaran Islam ditujukan bagi kepentingan pemeliharaan tatanan kehidupan manusia dan alam semesta secara menyeluruh (universal), yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dinilai sebagai ajaran yang abadi, karena dalam agama Islam terancang konsep ajaran yang mencakup penataan kehidupan di dunia yang sejahtera dan kehidupan di akhirat (selepas kehidupan dunia) yang bahagia. Konsep ajarannya dikatakan fithri, karena sesuai dengan fithrah manusia yang terancang secara serasi bagi kepentingan pemeliharaan, peningkatan dan pengembangan kebutuhan fithrah manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Pada sisi inilah keutamaan dan kelebihan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini ditunjang oleh kerangka dasar atau pokok-pokok ajaran Islam, yaitu:
 Aspek keyakinan yang disebut dengan aqidah, yaitu aspek credial atau keimanan terhadap Allah dan semua yang difirmankan-Nya dan disabdakan oleh rasul-Nya untuk diyakini. Aqidah Islam ini telah dirumuskan dalam bentuk rukun iman. Penafsiran terhadap aqidah melahirkan literatur keislaman yang dikenal dengan istilah ilmu kalam atau teologi Islam dengan berbagai macam aliran pemikiran.
 Aspek norma atau hukum yang disebut syari’ah, yaitu aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta. Penafsiran terhadap syariah Islam melahirkan literature keislaman yang disebut dengan fikhi Islam dengan berbagai macam mazhab.
 Aspek perilaku yang disebut dengan akhlaq atau ihsan, yaitu sikap-sikap atau perilaku baik yang nampak maupun tidak nampak dari pelaksanaan aqidah dan syari’ah. Penafsiran terhadap akhlak melahirkan literature keislaman yang disebut dengan imu tasawauf dengan berbagai macam aliran (tarekat).
Ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan dipisahkan satu dengan lainnya tetapi menyatu membentuk kepribadian yang utuh pada diri setiap manusia muslim. Aqidah digambarkan sebagai akar yang menunjang kokoh dan tegaknya batang di atas muka bumi, syari’ah diumpamakan sebagai batang yang berdiri kokoh diatas akar yang menancap ke bumi, sedangkan akhlaq dimisalkan dengan buah yang dihasilkan dari proses yang berlangsung pada akar dan batang. Keutuhan dan kesatuan ketiga aspek inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada ummat Islam, ketika mereka mengikrarkan dirinya untuk memeluk agama Islam (QS. al-Baqarah/2:208).
Aqidah (keimanan) yang benar, akan melahirkan sikap kepatuhan pada ajaran dan norma-norma yang telah digariskan dalam hukum (syari’ah), dan pelaksanaan norma dan hukum tersebut yang didasari oleh aqidah yang benar, akan melahirkan perilaku zhahiriyah dan bathiniyah yang sesuai dengan kaedah dan norma moralitas (akhlak).

II. KONSEP MANUSIA MENURUT ISLAM

A. Hakikat Manusia
Konsep manusia dalam al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas. Allah memakai konsep basyar dalam al-Qur’an sebanyak 37 kali, salah satunya al-Kahfi: 110, yaitu : Innama anaa basayarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr: 33; ar-Rum: 20), serta manusia makan dan minum (al-Mu’minuun: 33). Basyar adalah makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.
Kata insan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali, di antaranya (al-Alaq: 5), yaitu : Allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab: 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti (az-Zummar: 27), yaitu : Walaqad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.
Dengan demikian, al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan Ilahi atau ruh Allah, memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menantang takdir Allah.
Menurut pandangan Murtadha Mutahhari, manusia adalah makhluk serba dimensi yang dapat disimpulkan menjadi empat dimensi, yaitu:
1. Manusia adalah makhluk yang berdimensi biologis reproduksi. Yang dimaksud dengan dimensi biologis-reproduksi adalah manusia makhluk yang memiliki kebutuhan-kebutuhan biologis seperti sandang, papan dan pangan serta seks dan memiliki kemampuan bereproduksi (berkembang biak). Dalan konteks makna inilah manusia dinamai dengan al-basyar (QS. al-Mu’minun/23:33 dan QS. Maryam/19:20).
2. Manusia adalah makhluk bendimensi intelektual peradaban. Yaitu manusia membutuhkan ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui. Oleh karena itu manusia sejak lahir telah diberikan padanya potensi-potensi ilmiah, berupa pendengaran, penglihatan dan akal budi (QS. as-Sajadah/32:9).
3. Manusia adalah makhluk bendimensi sosial-masyarakat. Artinya manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk hidup dalam komunitas sosial-masyarakat. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan dapat hidup tanpa sosial masyarakatnya. Oleh karena itu manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sebagai contoh seorang manusia tidak akan dapat memenuhi kebutuhan dan kemampuan reproduksinya tanpa bantuan seorang manusia lainnya. Dalam konteks ini, seorang manusia laki-laki membutuhkan seorang manusia perempuan sebagai pasangannya dalam rangka pemenuhan kebutuhan reproduksinya. Pada kedua dimensi tersebut manusia dinamai dengan al-insan (QS. al-Hujurat/49:13).
4. manusia adalah makhluk bendimensi religius-spritual. Maksudnya manusia merupakan makhluk yang membutuhkan akan agama dan kepatuhan terhadap agama. Dalam konteks inilah manusia dinamai dengan al-ins (QS. al-A’raf/7:172).
(Murtadha Mutahhari, 1984, 125-135).

B. Martabat Manusia
Manusia sebagai makhluk memiliki keunggulan dan keistimewaan dari makhluk lain. Keunggulan tersebut karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik dan sempurna (ahsani taqwiem QS. at-Tiin: 4), dengan bentuk tubuh yang elastis dan dinamis, serta diberi akal, kewajiban, dan tanggung jawab.
Manusia terdiri dari dua unsur pokok, yaitu gumpalan tanah dan hembusan ruh. Ia adalah kesatuan dari kedua unsur tersebut yang tidak dapat dipisahkan. Bila terpisah, maka ia bukan lagi manusia, sebagaimana halnya air, yang merupakan perpaduan antara oksigen dan hidrogen. Dalam kadar-kadar tertentu bila salah satu di antaranya terpisah, maka ia bukan air lagi.
Manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya yang bersumber dari gumpalan tanah, harus menurut cara-cara manusia, bukan seperti hewan. Demikian pula dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohaniah bukan seperti malaikat. Sebab kalau demikian, ia akan menjadi binatang atau malaikat, yang keduanya akan membawa ia jatuh dari hakikat kemanusiaannya.
Manusia kecuali diberi potensi positif ada juga potensi negatif berupa kelemahan-kelemahan sebagai manusia. Kelemahan pertama, potensi untuk terjerumus dalam godaan hawa nafsu dan setan. Kedua, dinyatakan secara tegasoleh al-Qur’an bahwa banyak masalah yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, khususnya menyangkut diri, masa depan, serta banyak hal menyangkut hakikat manusia.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Allah, sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi, yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Allah, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit, dan bumi. Manusia dipusakai dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Kemajuan manusia dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan, yang kemudian bergerak kea rah kekuatan, tetapi hal itu tidak akan menghapuskan kegelisahan, kecuali manusia dekat dengan Allah dan mengingat-Nya. Kapasitas manusia tidak terbatas, baik dalam kemampuanbelajar maupun dalam menerapkan ilmu. Manusia memiliki suatu keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi atau pendorong manusia, dalam banyak hal, tidak bersifat kebendaan. Manusia dapat secara leluasa memanfaatkan rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada dirinya, namun pada saat yang sama, manusia harus menunaikan kewajiban kepada Allah.

C. Tanggung Jawab Manusia
Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat Allah, yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah, di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah, berarti manusia memperoleh mandat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah.
Agar manusia dapat menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya. Melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep-konsepserta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.
Kekuasaan manusia sebagai khalifah Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-Kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam surat Fathir ayat 39.
Di samping peran manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang memiliki kebebasan, ia juga sebagai hamba Allah (‘abdullah). Sebagai hamba Allah harus ta’at dan patuh kepada perintah Allah. Makna yang esensial dari kata ‘abd (hamba) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan. Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan ‘abd merupakan keterpaduan tugas dan tanggung-jawab yang melahirkan dinamika hidup yang sarat dengan kreativitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran (Toto Suryana, dkk, 1996: 18 – 21).
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat tergantung pada kualitas komunikasinya dengan Allah melalui ibadah dan kualitas interaksi sosialnya dengan sesama manusia melalui muamalah. Manusia memiliki derajat yang paling mulia dari makhluk lainnya, sebab ada lima pokok keutamaan hidup manusia, sebagai berikut :
1. Diturunkannya Agama (Ad-dien)
Agama menjadi hidayah bagi manusia tentang adanya dua kehidupan, yaitu duniawi dan ukhrawi. Agama menuntun menusia beriman, beramal shaleh dan hidup taqwa. Agama menetapkan nilai dan norma universal agar menusia hidup sejahtera, bahagia dan selamat di dunia dan di akhirat, menjadi al-muflihuun (QS. al-Baqarah/2:1-5).
2. Memiliki Akal
Akal adalah anugerah Allah swt. yang amat bernilai, faktor pokok dalam aktualisasi ajaran agama. Akal berfungsi agar hidup beragama lebih berkualitas. Dengan potensi akal, manusia mengembangkan fungsinya sebagai khalifah di bumi, karena potensi akal, manusia berkemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni (IPTEKS) kontemporer yang amat spektakuler. Karena IPTEKS itulah dewasa ini terjadi revolusi; tranportasi, komunikasi dan informasi. Secara faktual kita menikmati ketiga bidang tersebut. Sebab itu al-Qur’an mengeritik dan mencela orang yang tidak menggunakan akal dan pancainderanya, ia diancam dengan neraka sa’ir (QS. al-Mulk/67:10).
3. Jiwanya
Ruh itu adalah milik Tuhan, dianugerahkan kepada manusia, tetapi tetap menjadi milik-Nya, suatu saat Tuhan akan mengambilnya kembali. Ruh (jiwa) memiliki potensi yang unik dan amat luar biasa. Tetapi juga sangat rahasia dimana hanya Allah yang mengetahuinya. Pada ruh inilah yang merupakan substansi kehidupan manusia. Kewajiban manusia adalah memeliharanya dan menghormatinya, baik jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain.
Syariat Islam melindungi kehormatan dan keberadaan jiwa itu. Bagi orang yang melakukan pelanggaran diberlakukan sanksi berat. Allah swt. berfirman dalam QS. as-Sajadah/32:9, QS. al-Isra’/17:31-33, QS. an-Nisa’/4:29 dan Q.S al-Baqarah/2:178-179.
4. Hartanya
Tentang harta benda pada manusia, Islam mengajarkan dan mengaturnya dengan prinsip-prinsip:
a) Islam mengakui adanya hak milik baik individual maupun kooperatif.
b) Allah swt. memerintahkan agar manusia mencari karunia dan rezki Allah dari bagian-bagian alam ini secara halal dan baik (thayyib).
c) Pemanfaatan harta, tidak boleh menyengsarakan orang lain, dan juga tidak boleh digunakan secara mubazir dan berlebih-lebihan (israaf).
d) Menghormati dan melindungi harta benda orang lain. Maka orang yang mengambil dan merampas milik orang lain secara batil, seperti: mencuri, korupsi, merampok, merampas itu wajib dipotong.
e) Islam mengatur tentang perlindungan hak milik, pemanfaatan dan distribusinya. Harta benda harus berfungsi sosial, maka secara hukum ada distribusi yang bernilai wajib/fardhu dan ada yang bersifat sunnat. Seperti: zakat (mal dan fitrah), sadaqah, infaq, nafkah, wakaf dan hadiah. Bagi non-muslim, jizyah (pajak). Allah swt. menjelaskannya dalam QS. an-Nisa’/4:32 dan QS. al-Baqarah/2:188.
(Dienul Islam, Cet. 20, hal. 252-258)
5. Keturunannya
Keturunan adalah prinsip Islam yang melekat pada bangunan keluarga. Islam menetapkan pedoman pemeliharaan keluarga yang disebut “Al-Muhaafadzah ‘alal-Usrah.” Substansi keluarga adalah batu sendi kehidupan masyarakat, kuat dan lemahnya masyarakat atau ummat, terletak pada batu sendi primer ini. Dari keluargalah lahir keturunan. Untuk itu, Islam memberikan tuntunan tentang :
a) Cara memilih jodoh.
b) Cara nikah dan tujuan nikah.
c) Hubungan suami-istri, tentang kewajiban-kewajiban dan hak-hak masing-masing.
d) Sistem pemeliharaan anak dan jaminannya.
e) Sistem waris dari harta benda
f) Larangan perbuatan zina dan sanksinya.
Allah swt. berfirman dalam QS. at-Tahrim/66:6, QS. an-Nisa/4:3-4 dan 9, QS. ar-Rum/30:21dan QS. an-Nur/24:2-3.

I. KONSEPSI KETUHANAN DALAM ISLAM

A. Pembuktian Wujud Allah
Untuk membuktikan adanya Allah, al-Qur’an mengisyaratkan suatu metode yaitu menyelidiki tentang kejadian manusia dan alam semesta. Langit dan bumi serta isinya merupakan bukti yang nyata tentang adanya Allah swt. Untuk membuktikan wujud Allah, Ibnu Rusyd menggunakan dua cara:
1. “dalil Inayah” (the proof of providence), yaitu mengarahkan manusia untuk mengamati alam semesta sebagai ciptaan Allah yang mempunyai tujuan/manfaat bagi manusia.
(QS. Luqman/31:20, QS. an-Naba’/78:6-16, QS. Ali Imran/3:190-191).
2. “dalil Ikhtira”, yaitu mengarahkan manusia untuk mengamati makhluk yang beraneka ragam yang penuh keserasian atau keharmonisan khususnya alam hayat.
(QS. al-Ghasyiyah/88:17-22, QS. al-Hajj/22:73).
Bukti lain tentang adanya Allah berdasarkan teori kefilsafatan antara lain :
a. Dalil cosmological, yang sering dikemukakan berhubungan dengan ide tentang sebab (causality). Plato dalam bukunya “Timeaus” mengatakan bahwa tiap-tiap benda yang terjadi mesti ada yang menjadikan. Dalam dunia kita tiap-tiap kejadian mesti didahului oleh sebab-sebab dalam benda-benda yang terbatas (finite) rangkaian sebab adalah terus menerus, akan tetapi dalam logika rangkaian yang terus menerus itu mustahil.
b. Dalil moral, argumen ini sering dihubungkan dengan nama Immanuel Kant. Menurut Kant, manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam hati sanubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan yang buruk dan melaksanakan perbuatan yang baik. Manusia melakukan hal itu hanya semata-mata karena perintah yang timbul dari dalam lubuk hati nuraninya. Perintah ini bersifat universal dan absolut. Dorongan seperti ini tidak diperoleh dari pengalaman, akan tetapi manusia lahir dengan perasaan itu.

B. Tuhan Yang Maha Esa
Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (tauhid) merupakan titik pusat keimanan, karena itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah swt. Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah, akan mempunyai nilai ibadah di sisinya. Sebaliknya pekerjaan yang tidak diniatkan karena Allah tidak mempunyai nilai apa-apa (QS. al-Bayyinah/98:5). Hadits Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya segala perbuatan tergantung pada niatnya dan bahwasanya tiap-tiap orang adalah apa yang ia niatkan …… (HR. Bukhari dan Muslim).
Islam mengajarkan bahwa iman kepada Allah swt. harus bersih dan nurani, menutup setiap celah yang memungkinkan masuknya syirik. (QS. al-Ikhlas, 112: 1-4 dan QS. an-Nisa’, 4: 48).
Tauhid adalah mengitikadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Tauhid mencakup tujuh macam sikap, yaitu :
1. Tauhid Dzat
Tauhid Dzat artinya mengitikadkan bahwa Dzat Allah itu Esa, tidak berbilang. Zat Allah itu hanya dimiliki oleh Allah saja, yang selain-Nya tidak ada yang memiliki-Nya. Rasulullah menasehatkan: “Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan pikirkan dzat Allah, karena kamu tidak akan sanggup mengira-ngirakan hakekat yang sebenarnya.” (HR. Abu Naim dan Ibnu Umar).
2. Tauhid Sifat
Tauhid sifat adalah mengitikadkan bahwa tidak ada yang sesuatupun yang menyamai sifat Allah, dan hanya Allah saja yang memiliki sifat kesempurnaan (QS. asy-Syura/42:11).
3. Tauhid Wujud
Tauhid wujud adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah yang wajib ada. Adanya Allah tidak membutuhkan kepada yang mengadakan (QS. al-Hadid/57:3).
4. Tauhid Af’al
Tauhid Af’al adalah mengitikadkan bahwa Allah sendiri yang menciptakan dan memelihara alam semesta (QS. al-Furqan/25:2 dan QS. al-Muzammil/73:20).
5. Tauhid Ibadah
Tauhid ibadah adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah saja yang berhak dipuji dan dipuji. (QS. al-Fatihah/1:5 dan QS. al-Mu’minun/23:32).
6. Tauhid Qashdi
Tauhid Qashdi adalah mengitikadkan bahwa hanya kepada Allah-lah segala amal ditujukan, segala amal dilakukan secara langsung tanpa perantara serta ditujukan hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya semata (QS. al-An’am/6:162).
7. Tauhid Tasyri’
Tauhid Tasyri’ adalah mengitikadkan bahwa hanya Allah-lah pembuat peraturan (hukum) yang paling sempurna bagi makhluk-Nya. Allah adalah sumber segala hukum.
(QS. an-Nisa/4:59 dan QS. al-Maidah/5:44 dan 47).

C. Iman dan Taqwa
1. Pengertian Iman dan Taqwa
Kata iman adalah bahasa Arab, berasal dari kata amana artinya aman. Maksudnya orang yang beriman selalu memiliki perasaan aman karena yakin selalu dilindungi oleh Allah. Dalam kaitan inilah iman terkait dengan aqidah. Aqidah itu berasal dari bahasa Arab, “aqad” artinya ikatan. Maksudnya ikatan hati dengan Allah.
Definisi iman ialah keyakinan penuh dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan diwujudkan oleh amal perbuatan.
Taqwa berarti hati-hati, mawas diri dan waspada. Menurut H.A. Salim dalam “Dienul Islam” yang dikarang oleh Drs. H. Nasruddin Razak, disebutkan bahwa taqwa lebih tepat disalin kata “ingat” dengan makna; awas, hati-hati, yaitu menjaga diri, memelihara keselamatan diri, yang dapat diusahakan dengan melakukan yang baik dan benar, mematangkan yang jahat dan salah seperti yang dikehendaki oleh taqwa.
Jadi pengertian taqwa secara umum ialah sikap mental orang-orang mukmin dari kepatuhannya dalam melaksanakan perintah-perintah Allah swt. serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya atas dasar kecintaan semata.
2. Tanda-Tanda Orang Beriman
• Senantiasa hatinya bergetar apabila membaca, mendengar ayat-ayat suci al-Qur’an.
• Mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang diberikan oleh Allah swt. (QS. al-Anfal/8:2-3).
• Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS. al-Anfal/8:24).
• Beramal dan berdakwah dengan penuh kesabaran. (QS. al-‘Ashr/103:3).
3. Tanda-Tanda Orang Bertaqwa
• Dalam al-Qur’an disebutkan pada surat ali-Imran/3:131,133 dan 135.
• Memelihara diri dari hal-hal yang menjerumuskan ke neraka.
• Selalu menuju kepada maghfirah (ampunan Allah swt.).
• Apabila berbuat keji, segera mengingat Allah dan memohon ampunan-Nya.
• Segala perilakunya merasa disaksikan oleh Allah swt. (QS. al-A’raf/7:96).

D. Peranan Iman dan Taqwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia.
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam QS. an-Nisa/4:78.
3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan dan bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri untuk kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah dalam QS. Hud/11:6.
4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram (mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman Allah surat ar-Ra’d/13:28.
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan kepada kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS. an-Nahl/16:97.
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162.
7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:5.
8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
Jika karena terpengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu), seperti takut, marah, putus asa, dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh karena itu, orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern, seperti darah tinggi, diabetes dan kanker.
Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tenteram, damai dan sejahtera.


Kasus :
Kadang-kadang kepercayaan seseorang seolah-olah tertutupi dan tidak ternyatakan. Namun dalam keadaan tertentu ia muncul dengan tiba-tiba. Misalnya, dalam keadaan gembira ria orang sering melupakan Tuhan, bahkan sebagian orang dengan sombong dan berani mengatakan: “tidak ada Tuhan.” Namun dalam keadaan kritis, ketika sedang diancam bahaya maut atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai topan, orang dengan khusyu’ berdo’a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
1. Kasus di atas memungkinkan bahwa pada prinsipnya setiap manusia mengakui adanya Tuhan. Bagaimana pendapat saudara trerhadap pernyataan tersebut ?
2. Diskusikan kasus di atas dengan teman anda, dalam hubungan dengan ayat yang menjelaskan bahwa roh manusia sudah meyakini adanya Tuhan, sebelum manusia dilahirkan di muka bumi ini.